Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Kisah Ngewe ABG di Sepanjang Perjalanan 2

Kisah Ngewe ABG di Sepanjang Perjalanan 2

 Tradingan.com - Tanpa kusangka, mereka berhamburan naik ke tempat tidurku. Euis di samping kiri, Nyai di samping kanan. Keduanya langsung kurangkul, masuk ke dalam pelukanku. Perlahan tanganku mengelus rambut mereka yang basah (rupanya mereka keramas tadi di dalam), turun ke telinga, leher, tangan, dan dengan sangat perlahan, tanganku yang sudah sangat berpengalaman ini mengarah ke payudara. Sentuhan perlahan dan hati-hati, perlahan menuju ke puncak, ke tonjolan yang semakin lama semakin keras. Kujepit dengan kedua jariku sambil kupelintir perlahan. Desahan mulai terdengar dari mulut kedua gadisku ini. Kulihat mata mereka terpejam, dengan bibir mungil yang terbuka sedikit, membuatku semakin terangsang. Kucium kening Euis, perlahan turun ke mata, hidung, sampai ke bibirnya. Mulutnya yang wangi pasta gigiku itu kemudian kuciumi. Dengan perlahan dan hati-hati, kutelusuri bibir dan giginya dengan lidahku, lalu kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya.



Dia semakin mendesah dan menggelinjang. Kedua tangannya memelukku erat. Sementara itu, Nyai kutarik dan kusandarkan kepalanya ke dadaku. Kuelus rambutnya, belakang lehernya, dan belakang telinganya. Tangannya yang bebas mengelus dadaku, turun ke kedua puting dadaku, lebih turun lagi, dan dengan berani menyelusup ke bawah karet celana piyamaku. Aku sengaja tidak memakai celana dalam, supaya praktis pikirku. Berani sekali dia. Elusan tangannya yang halus di permukaan batang kemaluanku, membuatku semakin bernafsu. Kepalanya yang menghadap ke bawah perlahan turun. Diturunkannya celana piyamaku, dan perlahan diciumnya kepala batang kemaluanku. Dijilatnya perlahan, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Gesekan naik turun membuatku terpaksa mengangkat pinggangku ke atas. Dan itu dipergunakan Nyai untuk melepaskan celanaku sama sekali. Batang kemaluanku mengacung gagah, bebas lepas. Kuhentikan ciumanku, lalu kubuka Sweater yang dikenakan Euis. Hal yang sama kulakukan juga pada Nyai, sebelum aku sendiri membuka piyama atasku. Aku sudah telanjang bulat sekarang, sedangkan mereka berdua masih bercelana dalam. Tidak salah dugaanku.

Kurebahkan Euis, kemudian dengan rakus kukulum puting payudaranya yang belum terlalu besar. Kugigit perlahan, kutarik dan kuhisap kuat, membuat Euis sedikit berteriak. Sementara Nyai masih saja sibuk mengulum kemaluanku di bawah. Nafsuku sudah tidak tertahankan. Kubuka celana dalam Euis, lalu kujilati klitorisnya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Kugelitik klitorisnya dengan jari tengahku, dan perlahan kucoba untuk menusukkan jariku itu ke dalam kemaluannya. Euis menghindar, dan berkata pelahan,
“Jangan Kang.”
Dia benar-benar masih perawan karena jariku tidak bisa masuk, terhalang oleh otot-otot dinding vaginanya yang terkatup tegang, mungkin karena Euis merasa tidak “nyaman”. Euis mendesah tidak karuan, kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sebelum terhempas diam. Dia sudah sampai di puncak kenikmatannya.

Kutinggalkan Euis telentang diam, kuserang Nyai. Kutelentangkan dia, kutarik celana dalamnya kemudian kujilati kemaluannya. Kepalanya mendongak karena berada di ujung bawah tempat tidur, sedang tangannya sibuk meremas-remas kepalaku yang cepak. Kumasukkan jari tengahku, bisa masuk. Kubengkokkan dan kutelusuri bagian atas kewanitaannya. Aku mencari daerah yang menurut istriku sangat nikmat bila disentuh. Kulihat gerakan perutnya semakin cepat, tanda bahwa titik itu sudah ditemukan. Kujilati klitorisnya sambil jari tengahku menekan-nekan bagian atas kewanitaannya yang hangat, basah dan lembut. Gerakannya semakin liar, semakin liar, sambil mulutnya mendesah kuat. Kuhentikan kegiatanku, lalu kudaki tubuhnya perlahan-lahan. Nyai membuka matanya, terlihat agak kecewa. Tapi itu tidak lama, karena segera kucium bibirnya, dan kutelusuri mulutnya dengan lidahku. Lanjut baca!


Kisah Ngewe ABG di Sepanjang Perjalanan 1

Kisah Ngewe ABG di Sepanjang Perjalanan 1

 Iklans.com - Dengan kondisi badan yang cukup letih, kucoba konsentrasikan perhatian untuk mengendalikan mobil kecil biruku di keramaian jalan Tol Jagorawi. Masa liburan sekolah menyebabkan jalan bebas hambatan itu menjadi sangat ramai dan padat. Masih terbayang lambaian tangan istri dan ketiga anakku melepas kepergianku, pulang kembali ke Bandung dimana kami menetap. Aku yang tidak memperoleh cuti, terpaksa tidak dapat menemani mereka yang kusayangi, berlibur di kota tempat mertuaku tinggal.

Lepas gerbang tol, kubelokkan mobil ke kiri, menuju Ciawi. Kondisi lalulintas yang masih cukup lancar walaupun padat beriringan, membuatku lega. 2-3 Jam lagi tentunya aku sudah sampai di rumah dan tidur dengan nyaman.



Keadaan langsung berubah beberapa kilometer menjelang Cipayung. Lalulintas yang semula lancar, mendadak berhenti sama sekali. Jalan menuju Puncak dipenuhi kendaraan sampai 3 jalur, dan belum ada tanda-tanda akan bergerak. Sambil menggerutu dalam hati, kuperkeras suara radio di mobilku dengan harapan dapat mengusir rasa kantuk.

Di pertigaan jalan menuju Taman Safari, mobilku terhalang Angkot yang berhenti seenaknya mencari penumpang. Bahkan supirnyapun tidak berada di belakang kemudi. Kutekan klakson berulang-ulang, sambil berusaha mencari celah untuk melepaskan mobilku dari keruwetan itu. Hampir berhasil ketika aku dikagetkan oleh suara klakson dari sebelah kanan. Kutahu pasti berasal dari Angkot yang berhenti itu. Kurang ajar, sudahlah menghalangi jalan, masih berani membunyikan klakson. Niatku untuk memaki seketika pudar setelah melihat senyum manis dari 2 orang gadis dalam Angkot tersebut. Sambil berulang-ulang menekan tombol klakson, mereka seperti berusaha untuk bertanya melalui gerakan jari dan tangan. Sadar telah berhasil menarik perhatianku, salah seorang dari mereka mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan bertanya,
“Mau ke Cianjur ya Om. Boleh ikut?”
Sejenak aku bimbang antara membolehkan atau menolak. Beberapa pertanyaan lain juga berkelebat dalam pikiranku: Apakah mereka baik-baik? Akankah mereka merampokku? Akankah mereka menyusahkanku? selain pikiran-pikiran nakalku setiap melihat wanita.

Akhirnya pikiran nakal dan jiwa petualangku yang menang. Kupinggirkan mobilku sambil menekan tombol Central Lock. Kedua gadis itupun masuk, sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Kamipun saling berkenalan dan bertukar nama. Yang seorang bernama Euis dan yang lain bernama Nyai. Mereka berdua tidaklah secantik kesan pertama saat melihatnya, tetapi cukup manis dan menarik. Keduanya masih mengenakan baju seragam SMEA dengan nama salah satu sekolah di Bogor yang tertulis jelas pada Badge di dada. Mereka terlihat masih sangat muda walaupun aku tidak terlalu yakin. 

Jaman sekarang ini, mudah saja mengubah penampilan dan menyamar untuk menjadi muda. Aku sempat memperhatikan tubuh mereka yang langsing dengan kedua payudara yang baru tumbuh. Pikiran-pikiran nakal langsung menari-nari dalam kepalaku, yang membuat kemaluanku perlahan membesar dan mengeras. Tentunya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bila dapat meniduri mereka berdua. Tapi bagaimana caranya?

Perjalananku menjadi meriah dan ramai. Mereka berdua cerewet sekali, dengan logat asli Sunda yang masih kental. Dari cerita mereka, kutahu bahwa mereka bersekolah di Bogor dan pada saat liburan, mereka pulang ke orang tua mereka di Cianjur. Dasar pikiran kotor, sesekali kulontarkan kalimat-kalimat yang agak menjurus, yang dibalas dengan cubitan-cubitan. Pembicaraan semakin panas saat aku berhasil membuat mereka bercerita pengalaman masing-masing saat berpacaran. Lanjut baca!


Heboh Anus Amelia di Sodok Pengamen Bus 2

Heboh Anus Amelia di Sodok Pengamen Bus 2

Biodataviral.com‘Den, Mamang sudah siapin makan, mau dahar (makan) sekarang?’, ternyata tanpa setahuku Mang Jani telah memasak untuk kami.

Dia menyuguhkan ikan goreng, sayur asem, lalapan sunda, sambal dan kelapa muda sebagai minumannya. Sebagai ungkapan terima kasihku, kuberikan padanya lembaran 50 ribu rupiah. Kami makan dengan lahapnya. Di tengah acara makan aku membayangkan Obet kencing di prringku dan kuhirup kencingnya, kumakan bersama sayur asem itu dan ikan goreng. Kontolku langsung ngaceng membayangkannya. Kemudian kubayangkan pula, dia buang hajat di cobekku untuk kemudian kuambil lalapan dan kucolek ‘sambal’ dalam cobek itu, terbayang nikmatnya masakan desa.

Pada pelajaran kedua, kulatih jarinya mengenai bagaimana tiga jari kanan memetik tali gitar secara cepat beruntun, atau yang biasa disebut ‘tremolo’, hingga menimbulkan efek suara yang terdengar seperti air mengalir. Dia harus terus menerus mengulang-ulangnya hingga lancar. Kubiarkan dia mempelajarinya sendiri hingga jarinya melepuh dan bosan sendiri.

Kubuka laptopku yang sedang dalam keadaan stand by, ku-explore ke folder koleksiku, kupanggil file ‘cocks & cum’, dan beberapa gambar yang telah kupindahkan ke Microsoft Excel langsung terpampang. Kupanggil Obet agar mendekat. Dia senang sekali melihat gambar-gambar koleksiku. Melihat gambar lelaki saling menjilat dan mengulum kontol sesama lelaki, minum sperma dari masing-masing pasangan kencannya, yang satu menjilati anal yang lain, bahkan yang satu minum kencing yang lain hingga kami berdua menjadi sangat ‘horny’.

Kami lalu saling meremas. Tanganku merasakan kedutan-kedutan birahi dari kontolnya. Tangan Obet dengan gemas meremas dan mengurut-urut kontolku. Laptop dan gambar-gambarnya kami biarkan tetap terbuka. Aku dan Obet dengan cepat saling melepas pakaian kami hingga bugil. Kami langsung berpelukan di tikar pondok itu. Aku dan Obet sama-sama kesetanan dilanda nafsu birahi. Kami saling jilat, saling gigit, saling sedot. Bibir, dagu, leher, dada, puting susu, ketiak, semua tidak ada yang terlewatkan.



Kemudian kami berputar hingga berposisi seperti gambar-gambar di kartu bridge. Kepalaku di perutnya menuju ke arah kakinya, kepalanya di perutku menuju ke arah kakiku. Kami saling mencium perut dan menjilat pusar sambil terus merangkak ke depan partner masing-masing. Saat wajahku telah sampai di areal jembutnya, aku menenggelamkan mukaku ke rimbunan tebal itu. Bau aroma lelaki kuhirup dari rimbunan jembutnya. Kurasakan juga Obet tengah terjebak dalam jembutku. Kami terus saling merangsek.

Di tepi-tepi kontol, lipatan antara pangkal kontol dan paha merupakan daerah sasaran hidungku yang paling utama. Di tempat itu keringat pria terakumulasi dan terjepit. Lanjut baca!


Heboh Anus Amelia di Sodok Pengamen Bus 1

Heboh Anus Amelia di Sodok Pengamen Bus 1

Piool.comPada hari Sabtu yang merupakan santai bagiku itu aku berniat ke Maruzen Manggarai untuk mencari buku. Di atas Metro Mini 19, Manggarai Senen PP seorang pengamen naik dari terminal RS Raden Saleh. Dengan celana jeans belel dan gitar bututnya dia melantunkan lagu-lagu. Kuperhatikan bokong anak ini seksi sekali. Anaknya jangkung, kurasa tidak kurang dari 170 cm, kerempeng, rambutnya yang agak dipanjangkan lepas terurai. Aku perkirakan usianya sekitar 21 atau 22 tahun. Wajahnya nampak bersih, sepertinya mahasiswa drop out.


Sejak dari RS Raden Saleh hingga depan stasiun KA Cikini aku tidak begitu memperhatikan apa yang dinyanyikannya maupun melodi yang dibawakan oleh gitarnya. Yang terus menjadi perhatianku hanyalah bokongnya yang seksi itu. Kubayangkan seandainya aku bisa membenamkan wajahku di celah bokongnya. Dengan membayangkannya saja aku sudah ngaceng berat.

Di stasiun KA Cikini, dia turun. Aku tiba-tiba begitu saja ikut turun, dan lantas mengejarnya saat melihat dia bergegas ke arah pasar Cikini.
‘Dik, dik, sebentar, mau tanya. Saya seneng denger lagu-lagunya tadi. Kalau aku carter bisa nggak? Adik hanya nyanyi untuk saya. Kebetulan saya ini penulis yang harus banyak mencari inspirasi. Mungkin adik bersama saya selama 2 atau 3 hari. Berapa saya bayar per harinya? Kalau bisa kita besok ketemu di mana? Akan saya jemput. Saya akan menginap di Bogor. Di sana saya punya pondok yang asri dan sejuk. Saya selalu menulis di tempat itu’.
Begitulah, aku langsung membeberkan maksud dan tujuanku secara lengkap dan terperinci kepada sang pengamen bis kota ini.
‘Eeehhmm.. Boleh Oom, terserah Oom aja mau kasih berapa. Hitung-hitung cari pengalaman. O ya boleh nggak kalau saya bawa teman Oom’.
Aku agak mikir.., tetapi sebelum aku menjawabnya, ‘Ah nggak usah deh, Oom khan mau ngarang, n’tar ngeganggu lagi. Besok disini saja Oom ketemunya. Saya khan tinggal di belakang pasar itu. Jam berapa?’.
‘Jam 11.00, nanti kita makan siang dulu di deket-deket sini. Siapa nama adik? O ya, nih buat panjer ..’, kusodorkan 1 lembar 100 ribuan rupiah.
Wajahnya langsung berbinar, ‘Nama saya Robert Oom. Panggil saja Obet. Makasih Oom, besok ya, saya tunggu. Selamat siang’.


Biasa, aku selalu lancar dalam mengawali sesuatu, tetapi sebagaimana saat ini, aku berpikir, bagaimana besok? Ya, biar besok sajalah! Dengan HP, kutelepon Pak Karta pemilik pondok santai yang biasa kupinjam (sewa) untuk bersantai di Bogor.
‘Pak saya mau pinjem tempat ya, 2 hari. Besok siang saya nyampe, kuncinya titipin Mang Jani saja. N’tar saya mampir sana’, nah beres sudah.

Pondok Pak Karta terletak di kebun buah-buahan yang cukup luas. Ada pohon manggis, duku, jambu, sawo dan lainnya.
Pukul 11.00 sesuai janji kujemput Obet di dekat stasiun Cikini. Aku pinjem mobil kakakku dengan alasan akan melihat-lihat tanah di Bogor, ada relasiku yang butuh tanah untuk rumah kebun. Sesampai di tempat, aku turun dari mobil dan melihat sana sini. Ternyata Obet sudah melihatku saat parkir mobil. Lanjut baca!


Viral Pak Iskandar Berjuang Demi Bisa Anal Seks 2

Viral Pak Iskandar Berjuang Demi Bisa Anal Seks 2

Aopok.com“Harus dipancing dulu, biar bangkit. Baru..,” lanjutnya sambil mulai memegang miliknya lagi.

Aku menelan ludah, “Dipancing pake apa Pak?”
“Apa saja. Yang penting bisa bikin merangsang. Ha..ha..” tawanya terdengar agak canggung.
Jangan-jangan ia mulai nervous dengan perkembangan suasana yang tampaknya makin mengarah ini. Aku sendiri juga agak nervous dengan situasi ini. Tapi kulihat tangan Pak Is masih berada di bagian depan sarungnya, dan sesekali tanpa sadar mengelus-elus daerah itu.

“Coba..,” aku nekat memberanikan diri mencoba mengulurkan tanganku untuk ikut memegang miliknya.
Sebenarnya aku agak ragu melakukan itu. Aku tidak mau dianggap kurang ajar. Tapi tampaknya semua sudah terlanjur. Dan ternyata Pak Is membiarkan saja ketika tanganku menyentuh bagian depan sarungnya. Yang pertama kurasakan adalah bagian itu terasa kenyal-kenyal padat dan belum bangun. Meski masih tertutup sarung, terasa sekali bonggolan pada bagian kepalanya. Tanganku lalu merambah ke bagian kantung zakarnya dan kuremas. Kulitnya tebal dan agak kasar. Mungkin banyak ditumbuhi bulu. Pak Is senyum-senyum saja melihat apa yang kuperbuat.

“Dibuka saja ya Pak..,” suaraku terdengar agak bergetar.
Pak Iskandar lalu melepas sendiri simpul sarungnya, dan membiarkan tanganku menelusup masuk dan menarik bagian depannya ke bawah. Kini tampak jelas bulu lebat memenuhi sekeliling batang kemaluan dan buah zakarnya. Langsung kugenggam otot vital yang masih lemas itu. Kupijat dan kuurut-urut pelan, maju mundur. Kudengar Pak Is mulai gelisah dan beberapa kali nafasnya mendesah pelan.

“Enak?” tanyaku sambil menatapnya.
Yang kutanya mengangguk ringan sambil tersenyum. Tanganku lalu makin kuat meremas. Pak Is pun makin gelisah. Ia kemudian menyandarkan punggungnya seolah pasrah dengan segala perbuatanku. Matanya terpejam meresapi setiap gerakan tanganku di sepanjang batang kemaluannya.



Masih dalam posisi duduk bersandar, Pak Is kemudian pelan-pelan mengangkat pantatnya dan melepas seluruh sarungnya. Kini dapat kulihat kedua pahanya yang gempal itu penuh dengan bulu hingga ke bagian kakinya. Tanganku pun semakin bersemangat menyerangnya. Apalagi ia kemudian membuka pahanya lebar-lebar, seolah memintaku untuk berbuat lebih jauh. Segera kuarahkan tanganku ke buah kemaluannya dan jari-jariku pun mulai bermain di sana. Kurasakan daerah itu mulai basah oleh keringat, menyebarkan aroma yang khas dari tubuh seorang lelaki.

Kini miliknya sudah membesar dan makin lama makin mengeras. Ini pertama kali aku dapat melihat bagian tubuh paling rahasia dari laki-laki yang selama ini telah menarik perhatianku. Barangnya tergolong besar dengan bentuk yang bagus, terutama bagian kepalanya yang membengkak itu. Ingin rasanya mendaratkan lidahku ke sana. Tapi tampaknya saat ini aku tidak dapat gegabah untuk langsung berbuat lebih jauh.  Lanjut baca!


Viral Pak Iskandar Berjuang Demi Bisa Anal Seks 1

Viral Pak Iskandar Berjuang Demi Bisa Anal Seks 1

Biodataviral.comJangankan bergaul dengan para tetangga, mengobrol dengan teman satu kost pun jarang sekali kulakukan. Bukan apa-apa, kegiatanku sehari-hari memang sangat padat dan sibuk. Hampir tiap hari aku berangkat kantor jam setengah tujuh pagi, dan sampai rumah lagi paling cepat jam delapan malam. Lebih dari dua belas jam waktuku habis di luar rumah. Baru hari Sabtu dan Minggu aku habis-habisan untuk bersantai, bangun siang, malas-malasan di rumah, baca-baca, nonton atau jalan santai ke mall-mall.


Itulah yang membuatku agak heran ketika malam itu, malam Sabtu, setiba dari kantor dan belum sempat berganti baju, tiba-tiba timbul keinginan untuk nongkrong di luar sambil merokok. Santai. Barangkali malam ini adalah akhir pekan dan besok aku masih punya dua hari libur. Jadi malam ini kupikir aku dapat mulai membuang waktuku untuk bersantai.

“Kok tumben nongkrong di luar, Dik Tanto?” sebuah suara agak berat, tapi ramah, mengagetkanku.
Rupanya Pak Iskandar, bapak-bapak tetangga sebelah rumah yang menyapaku. Rumahnya tidak persis di sebelah tempat kostku, tapi selisih tiga atau empat rumah. Kebetulan ia sedang lewat melintas di depan rumah kost.

“Iya nih Pak Is, lagi santai,” aku mencoba menanggapi basa-basinya Pak Iskandar.
Sungguh, aku agak surprise. Selama ini aku hanya mengenal dia sekedarnya saja, karena hampir tiap berangkat ke kantor aku lewat di depan rumahnya, dan biasanya kulihat ia sedang sibuk memanasi mesin mobilnya. Terus terang aku suka dengan Pak Iskandar. Bukan saja karena ia ramah dan baik, tapi orangnya juga ganteng dan simpatik. Usianya berkisar 40 tahunan, tapi masih nampak segar dan energik. Setiap kali bersua, ia selalu menyapaku dengan teguran-teguran ringan, dan tidak lupa melemparkan senyum di balik kumisnya yang menawan itu. Dan kini, malam ini, orang yang kusukai itu ada di hadapanku.

“Dari mana Pak?” aku mencoba mengajaknya berkomunikasi.
Dan ia tampaknya merespon pertanyaanku dengan berhenti sebentar dan ikut duduk di sampingku.
“Ini, lagi nyari lampu ke toko seberang jalan,” katanya sambil menunjukkan bungkusan panjang yang nampaknya sebuah lampu neon.
“Putus Pak, lampunya?” tanyaku.
“Iya nih, jadi repot. Mana lagi nggak ada orang di rumah. Jadi saya sendiri yang keluar beli lampu,” katanya bercerita sambil tertawa.



“Memang lagi pada kemana, Pak?”
“Tadi pagi, ibunya sama yang bungsu berangkat ke Bogor, ke neneknya. Biasa, besok kan liburan,” katanya sambil menyebut anaknya yang sulung sedang ada acara kemping ke luar kota, “Jadinya ya sendirian..,” lanjutnya.
“Ayo, main ke rumah. Ngobrol di sana saja,” ajaknya sambil berdiri untuk pamitan.
Aku menanggapi dan mencoba menolak ajakannya secara halus. Tapi tampaknya Pak Is tidak sedang berbasa-basi. Ia ‘serius’ mengajakku ke rumahnya. Aku jadi tidak enak sendiri. Lanjut baca!


Kisah Hubungan Seks Anal Pertama Ku

Kisah Hubungan Seks Anal Pertama Ku

Topoin.comCerita ini merupakan pengalaman seks aku yang pertama kalinya dengan seorang anak laki-laki. Dulu saat aku kelas 3 SMA, aku mempunyai banyak teman, dari yang lebih tua sampai yang lebih muda umurnya. Aku mempunyai seorang teman yang bernama Andi, entah kenapa aku sangat tertarik kepadanya. Memang sejak aku SMP aku suka sekali onani sampai klimaks. Dan Andi pun menceritakan bahwa hingga sekarang pun dia suka onani (setiap kali kalau sedang mandi, katanya). Kami berteman cukup lama. Dan aku selalu menyimpan perasaan suka itu.


Awal mulanya begini, kami berdua masuk suatu organisasi (bukan organisasi terlarang), dan diadakan acara di sekolah, kami semua menginap di sekolah. Acara itu diadakan pada sore hari. Dan pada saat mau tidur, aku dan Andi tidak bisa tidur. Kami ngobrol dan bercanda di ruangan sebelah yang agak jauh dari ruang tidur anak-anak yang lainnya. Entah kenapa benda panjang milikku waktu itu berdiri tegak terus. Andi pun menanyakan apa yang kupikirkan sehingga kemaluanku berdiri tegak. Dia pun merabanya, walaupun aku masih mengenakan baju lengkap. Aku juga meraba rudalnya yang masih terbungkus celana pendeknya. Pada saat itu aku tidak sadar bahwa Andi pun adalah seorang gay. Dia pun memulai perbincangan tentang seks dan lainnya. Dia meminta agar aku memperlihatkan benda panjangku yang berdiri tegak itu kepadanya. Dan anehnya, aku menuruti kemauannya.

Di ruangan yang gelap itu, aku pun membuka bajuku satu-persatu, mulai dari kaos dan celana pendekku. Dan Andi pun mulai membuka semua pakaiannya dan ternyata ia sudah telanjang bulat dengan batang kemaluan yang setengah tegang. Bulu kemaluannya waktu itu sudah terlihat mulai lebat. Saat itu aku belum membuka celana dalamku, dan batang kejantananku sudah berdiri sangat tegaknya karena ditambahnya pemandangan tubuh telanjang Andi.

Lalu Andi pun membatuku membukakan celana dalamku. Dia berlutut di depan batangku yang mengeras. Andi sedikit tertawa melihat ke arah batang kejantananku, karena ia tidak melihat adanya bulu kemaluan di sekitar benda pusakaku, karena memang kemarin harinya aku sengaja mencukurnya sampai habis. Dengan demikian terlihatlah batang kejantananku yang besar. Berdiri tegak dengan sempurna sampai sedikit berdenyut. Memang saat itu yang lebih bergairah adalah Andi, karena aku sengaja diam saja untuk melihat reaksinya. Ternyata sadis sekali pemandangan itu.

Lalu ia pun langsung menyuruhku duduk di kursi dan ia pun mengulum batang kejantananku, dan wah.. nikmat sekali. Andi memainkan senjataku dengan lidahnya di dalam mulutnya dan semakin nikmat aku merasakannya. Disedotnya burungku dengan kuatnya, dan aku hanya bisa terpejam merasakan nikmatnya kuluman Andi. Kurang lebih 15 menit kemaluanku dimainkan Andi. Aku pun merasakan bahwa aku akan mencapai puncaknya. Lalu Andi mengeluarkan batang kejantananku dari mulutnya dan ia mengocok kembali rudalku dengan tangannya dan, “Crrott.. crott..!” keluarlah cairan putih kental dari dalam kemaluanku dan aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Ternyata Andi tidak puas begitu saja. Ia menjilati seluruh spermaku yang tumpah ke perut dan dadaku serta ia juga menciumi aku sehingga kami saling bercumbu dengan posisi Andi duduk di pangkuanku. Aku pun hanya pasrah dan menuruti saja apa yang Andi mau. Lalu ia menyuruhku berdiri dan telungkup di atas meja. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik